-->

Mahasiswa Pesantren Sebagai Benteng Moralitas Bangsa


Oleh : Muhammad Lutfi
“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kugoncangkan dunia.” (Bung karno) 
Kalimat diatas tentu didasarkan kepada spirit jiwa revolusi dan semangat juang yang dimiliki oleh “pemuda”. banyak fakta sejarah tentang peran pemuda dan mahasiswa untuk mengawal stabilitas dan mengantarkan negara Indonesia menuju kemerdekaannya, gerakan kemerdekaan yang dilakukan oleh pemuda dan mahasiswa pada bulan Mei tahun 1998 adalah bukti dalam menciptakan revolusi dengan menggulingkan rezim Suharto dan demi menciptakan negara Indonesia kembali pada ideologi Pancasila, untuk menciptakan keadilan sosial tanpa diskriminasi berdasarkan kasta atau jabatan. Seperti yang dilakukan oleh tokoh pemuda dan mahasiswa seperti Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib, dalam upaya menghapus diskriminasi dan marjinalisasi yang dilakukan oleh pemerintah kepada masyarakat lemah khususnya.

Dewasa ini sulit sekali untuk menemukan sosok pemuda atau mahahasiswa yang seperti Sho Hok Gie dan Ahmad Wahib, sungguh ironis sekali ketika saat ini idealisme seorang Mahasiswa mulai mengalami dekadensi. Idealismenya tergerus oleh politik praktis dan modernisasi kehidupan di era globalisasi. Cara berfikir yang instan dan pragmatis seolah menjadi momok bagi mahasiswa pada saat ini, dan terkesan mahasiswa pada saat ini hanyalah sampah yang berproses menjadi sampah.  Kenapa saya katakan seperti itu karna tidak bisa kita pungkiri ketika mahasiswa yang pada dasarnya adalah aset bangsa untuk kedepannya mulai merambah kepada arus politik praktis, jadi  tidak ada bedanya antara mahasiswa dengan para penguasa yang lebih mementingkan harta dan kekuasan dari pada kebutuhan masyarakat  Indonesia. Itulah realitas yang terjadi pada mahasiswa saat ini.

Dalam mengantisipasi hal-hal yang seperti itu, muncullah nama baru untuk pesantren yang notabenenya adalah sebuah lembaga keagamaan, disisi lain menjadi rumah sakit bagi pemuda indonesia yang mulai mengalami dekadensi moral karna tidak siap menghadapi modernisasi. Dan pesantren menjadi alternatif terakhir bagi para orang tua yang tidak mengiginkan anaknya salah dalam pergaulan seperti kenyataan diatas diharapkan pesantren juga menjadi benteng yang dapat melapisi pemuda Indonesia yang sering salah mengartikan modernisasi sebagai westrnisasi. Ketika hal-hal yang dari barat kita telan mentah-mentah tanpa kita pilah terlebih dahulu mana yang harus kita ambil dan mana yang tidak patut untuk kita ambil, mulai dari pakaian, gaya hidup dan sebagainya. Menurut Bassam Tibi, Seorang intelektual muslim Jerman, “Umat islam dewasa ini telah kejangkitan sikap mental defensif karena “serbuan” modernisasi dan pembaratan (westrnisasi), yang merupakan buah peradaban dominan dewasa ini dan menyebar lewat arus deras globalisasi.” Kita sebagai Mahasiswa Pesantren harus  bisa menjadi aset yang di inginkan oleh bangsa indonesia untuk 10-20 tahun kedepan dalam menyatukan keinginan bersama demi terciptanya bangsa yang kuat dan tetap berpegang teguh kepada empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan kita sebagai mahasiswa yang berada dipesantren maupun diluar pesantren harus berani mengambil resiko dalam melihat realitas untuk kedepanya. Seperti yang pernah dikatakan oleh Freud: “Seorang yang berani melihat fakta-fakta realis, mau tidak mau akan mempunyai nada yang pesimis”. Itulah kenyataan yang harus kita terima dan kita jalani. Dan dengan berbekal moral cukup serta rasa memiliki sebagai warga negara indonesia diharapkan menjadi sebuah kekuatan yang besar dalam mewujudkan sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Semoga Bermanfaat !

Subscribe untuk mendapatkan artikel gratis melalui Email

0 Response to "Mahasiswa Pesantren Sebagai Benteng Moralitas Bangsa"

Post a Comment

Adblock Terdeteksi

Ingin membaca artikel disini? Mohon nonaktifkan Adblock (Pemblokir Iklan) pada browser Anda

Terima Kasih, Jazakumullahu Khairan

×